PENGALAMAN MENGIKUTI TEATER ARUS
Pada hari rabu kami
sedang mengikuti proses perkuliahan diruangan. Kami di suru masuk di sebuah
teater. Dimana teater tersebut terbagi menjadi dua yaitu teater arus dan teater
sendiri. Saya masuk di teater arus bersama teman-teman.
Pertemuan pertama
kami latihan di taman budaya. Kami dibagi menjadi 3 kelompok karena dalam
jumlah yang banyak tidak bisa hanya satu kelompok saja. Selesai pembagian
kelompok kami latihan olah tubuh dan olah vokal. Dalam satu minggu itu ada 3
kelompok yang latihan tetapi waktunya tidak bersamaan supaya pelatih lebih
mudah mengontrolnya. Kami latihan setiap hari sabtu dan minggu.
Setelah kami latihan
beberapa minggu di taman budaya, kami mengeluhkan biaya transportasi. Akhirnya
perwakilan dari teman-teman mengajukan saran dan masukan kepada pelatih. Kalau
bisa latihannya dilaksanakan saja di kampus. Dimana teman-teman banyak yang
tempat tinggalnya di sekitaran kampus. Saran tersebut disampaikan kepada
pelatih teater dan pelatih menyetujuinya. Kami sangat senang latihan di kampus
sebab tempatnya mudah dijangkau dan menurut saya itu tempat yang paling dekat
dan tidak membutuhkan biaya.
Memasuki bulan kedua
kami dibagikan peran, saya mendapat peran sebagai tukang dandan. Sementara
peran tersebut tidak sesuai dengan karakteristik saya sendiri. Kebanyakan dari
teman-teman tidak menyukai perannya masing-masing. Sehingga naskah itu diganti
dengan naskah yang lain, dimana dalam naskah yang baru ini saya sebagai warga.
Disinilah saya mulai
takut karena saya tidak terlalu terbiasa bicara dihadapan orang banyak. Dengan
keberanianlah saya mengalahkan rasa takut tersebut. Di peran ini saya saya
begitu mendalaminya. Dengan kekompakkan dari teman-teman pasti kita bisa
tampilkan yang terbaik dihadapan semua orang. Pementasan tinggal satu bulan
lebih lagi, latihan dalam satu minggu menjadi 4 kali. Semua yang mempunyai
peran sangat rajin dan sungguh-sungguh mengikuti latihan. Setiap yang tidak
datang latihan selama berulang-ulang kali maka perannya akan digantikan oleh
orang lain dan itu merupakan konsekuensi
yang harus diterima dari masing-masing anggota kelompok.
Sekitar 2 minggu
pementasan peran saya sebagai warga diganti. Pelatih teater menunjuk saya untuk
membuat laporan lighting. Dengan berat hati saya mengikhlaskan peran tersebut.
Saya berpikir ini adalah suatu kepercayaan yang harus saya laksanakan. Diantara
laporan-laporan yang lain menurut saya laporan lighting yang sulit dan rumit.
Saya harus mengetahui semua adegan yang dilakukan diatas panggung agar saya
lebih mudah untuk menyusun laporannya. Dalam pembuatan laporan ini saya dibantu
dengan teman satu kelompok saya.Beberapa hari saya memantau teman-teman latihan
diatas panggungdan mendengarkan arahan-arahan dari pelatih. Saya bisa membuat
laporan tersebut dan pelatih meminta laporannya untuk diperiksa apakah sudah
benar atau masih ada yang harus diperbaiki. Dimalam itu dengan rasa dek-dekkan
saya menyerahkan laporannya, pelatih teater mengoreksi gambar yang ada
dihalaman pertama dan berpesan kalau bisa gambar kotaknya jangan terlalu besar.
Tetapi disesuaikan saja dengan gambar kotak yang lain supaya dilihat menjadi
bagus dan rapi. Saya senang dengan adanya koreksi itu sehingga kalau pembuatan
laporan berikutnya tidak salah. Menurut saya ini adalah tantangan yang harus
saya hadapi, janganlah menyerah sebelum menyelesaikannya.
Mungkin itu saja yang
dapat saya ceritakan tentang pengalamanku mengikuti latihan teater.
Penulis
SUMARNI