Senin, 13 Juni 2016

pengalaman teater



PENGALAMAN MENGIKUTI TEATER ARUS
 
Pada hari rabu kami sedang mengikuti proses perkuliahan diruangan. Kami di suru masuk di sebuah teater. Dimana teater tersebut terbagi menjadi dua yaitu teater arus dan teater sendiri. Saya masuk di teater arus bersama teman-teman.
Pertemuan pertama kami latihan di taman budaya. Kami dibagi menjadi 3 kelompok karena dalam jumlah yang banyak tidak bisa hanya satu kelompok saja. Selesai pembagian kelompok kami latihan olah tubuh dan olah vokal. Dalam satu minggu itu ada 3 kelompok yang latihan tetapi waktunya tidak bersamaan supaya pelatih lebih mudah mengontrolnya. Kami latihan setiap hari sabtu dan minggu.
Setelah kami latihan beberapa minggu di taman budaya, kami mengeluhkan biaya transportasi. Akhirnya perwakilan dari teman-teman mengajukan saran dan masukan kepada pelatih. Kalau bisa latihannya dilaksanakan saja di kampus. Dimana teman-teman banyak yang tempat tinggalnya di sekitaran kampus. Saran tersebut disampaikan kepada pelatih teater dan pelatih menyetujuinya. Kami sangat senang latihan di kampus sebab tempatnya mudah dijangkau dan menurut saya itu tempat yang paling dekat dan tidak membutuhkan biaya.
Memasuki bulan kedua kami dibagikan peran, saya mendapat peran sebagai tukang dandan. Sementara peran tersebut tidak sesuai dengan karakteristik saya sendiri. Kebanyakan dari teman-teman tidak menyukai perannya masing-masing. Sehingga naskah itu diganti dengan naskah yang lain, dimana dalam naskah yang baru ini saya sebagai warga.
Disinilah saya mulai takut karena saya tidak terlalu terbiasa bicara dihadapan orang banyak. Dengan keberanianlah saya mengalahkan rasa takut tersebut. Di peran ini saya saya begitu mendalaminya. Dengan kekompakkan dari teman-teman pasti kita bisa tampilkan yang terbaik dihadapan semua orang. Pementasan tinggal satu bulan lebih lagi, latihan dalam satu minggu menjadi 4 kali. Semua yang mempunyai peran sangat rajin dan sungguh-sungguh mengikuti latihan. Setiap yang tidak datang latihan selama berulang-ulang kali maka perannya akan digantikan oleh orang lain dan itu merupakan konsekuensi  yang harus diterima dari masing-masing anggota kelompok.
Sekitar 2 minggu pementasan peran saya sebagai warga diganti. Pelatih teater menunjuk saya untuk membuat laporan lighting. Dengan berat hati saya mengikhlaskan peran tersebut. Saya berpikir ini adalah suatu kepercayaan yang harus saya laksanakan. Diantara laporan-laporan yang lain menurut saya laporan lighting yang sulit dan rumit. Saya harus mengetahui semua adegan yang dilakukan diatas panggung agar saya lebih mudah untuk menyusun laporannya. Dalam pembuatan laporan ini saya dibantu dengan teman satu kelompok saya.Beberapa hari saya memantau teman-teman latihan diatas panggungdan mendengarkan arahan-arahan dari pelatih. Saya bisa membuat laporan tersebut dan pelatih meminta laporannya untuk diperiksa apakah sudah benar atau masih ada yang harus diperbaiki. Dimalam itu dengan rasa dek-dekkan saya menyerahkan laporannya, pelatih teater mengoreksi gambar yang ada dihalaman pertama dan berpesan kalau bisa gambar kotaknya jangan terlalu besar. Tetapi disesuaikan saja dengan gambar kotak yang lain supaya dilihat menjadi bagus dan rapi. Saya senang dengan adanya koreksi itu sehingga kalau pembuatan laporan berikutnya tidak salah. Menurut saya ini adalah tantangan yang harus saya hadapi, janganlah menyerah sebelum menyelesaikannya.
Mungkin itu saja yang dapat saya ceritakan tentang pengalamanku mengikuti latihan teater.



Penulis

       SUMARNI